Jumat, 25 Februari 2011

kongres pssi

Tuntut Transparansi di PSSI, ICW Dampingi ASI ke DPR
Jum'at, 21 Januari 2011 - 15:56 wib
Misbahol Munir - Okezone



JAKARTA - Aliansi Suporter Indonesia (ASI) dan ICW (Indonesia Corruption Watch) batal bertemu dengan sejumlah Komisi X. Namun mereka diterima oleh salah satu anggota komisi X dari fraksi PKS, Raihan Ifkandar.

Kedatangan ASI ke gedung DPR/MPR salah satunya yakni, menuntut pembenahan dalam struktur manajemen yang ada di PSSI. Pasalnya ASI menilai PSSI selama ini tidak transparan dalam pengelolaannya.

“Sepakbola bukan hanya permainan saja, bukan sebuah tontonan, tapi yang terpenting juga adalah soal manajemen dan transparansi,” papar Richard selaku Sekretaris Umum The Jak Mania.

“Saat ini PSSI sedang menyelenggarakan kongres di Bali, kita berharap PSSI betul-betul malakukan perubahan. Tidak lagi di politisasi, sebagaimana keinginan Nurdin Halid yang ingin tetap maju sebagai ketua PSSI,” imbuh pentolan The Jak Mania ini.

Keinginan Nurdin untuk kembali memimpin kursi Ketua Umum PSSI disinyalir oleh ASI karena Nurdin ingin mengamankan proyek SEA Games dan Olympiade.

Kedatangan ASI ke komisi X tidak sendiri, mereka juga didampingi ICW (Indonesia Corruption Watch). ICW menduga selama ini PSSI tidak terbuka dengan aliran dana yang masuk.

Salah satu anggota ICW Apung Widadi menuturkan, “PSSI harus melakukan transparansi dari dana-dana yang masuk. Terkait laporan dari PSSI, itu hanya perspektif mereka sendiri.”

“Jika PSSI mengatakan sudah terbuka, mereka juga harus siap mendatangkan BPK dan PPATK terkait pengelolaan dana yang mereka terima,” imbuhnya, saat diwawancarai Okezone.com, Jumat, (21/01/2011).

ICW juga mengharapkan agar dalam penyelenggaraannya PSSI tidak lagi bergantung dari dana APBD. Karenanya ICW meminta agar Menteri Dalam Negeri (Mendagri) serius menghapus kebijakan tersebut.
(fit)
 
NH: Visi-Misi LPI Bertentangan dengan PSSI
Sabtu, 22 Januari 2011 - 05:04 wib
Achmad Firdaus - Okezone


JAKARTA - Ketua umum PSSI Nurdin Halid kembali melontarkan klarifikasinya terkait larangan PSSI kepada Liga Primer Indonesia (LPI) untuk menggelar kompetisi. Menurutnya, PSSI tidak memberikan izin kepada LPI karena visi dan misi yang bertentangan.

Kisruh PSSI vs LPI ini kembali dibahas Nurdin kala membuka Kongres ke-II PSSI 2011 yang berlangsung di Bali, Jumat (21/1/2011) malam. Setelah sebelumnya menyebut kompetisi yang digalang Arifin Panigoro tersebut adalah illegal, kali ini pria yang dikenal dengan inisial NH ini mengusung misi yang tidak sejalan dengan PSSI.

“Sungguh sangat memprihatinkan bahwa pada saat kita sedang giat-giatnya membangun prestasi persepakbolaan nasional, muncul suatu kegiatan sepakbola yang tidak sesuai dengan Statuta FIFA, AFC maupun PSSI dengan menggelar pertandingan sepakbola yang juga tidak sejalan dengan nafas, semangat dan substansi undang-undang No. 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional,” ujar Nurdin dalam kongres yang dihelat di Hotel Pan Pacific Bali Nirwana Resort.

“PSSI tidak memberikan persetujuan dan pengakuan kepada LPI (Liga Primer Indonesia) bukan karena faktor suka dan tidak suka melainkan kegiatan tersebut bertentangan dengan Visi dan Misi PSSI dan FIFA. Yang menganut prinsip Authenticity (keaslian), Unity (kesatuan), Performance (tampilan kinerja), Integrity (keutuhan),” sambungnya seperti dikutip situs resmi PSSI, Sabtu (22/1/2011).

“Visi, Misi FIFA, dan asas-asas kerja FIFA adalah roh sepakbola dunia dan berlaku universal. Demi otentitas dan integritas sepakbola, kita warga sepakbola dunia harus tunduk pada hukum sepakbola dunia, yang tertuang di dalam Statuta FIFA, dan kita pun sebagai komunitas sepakbola nasional harus tunduk pada Statuta PSSI sebagai ”hukum dasar tertulis” sepakbola NKRI yang sudah mendapat persetujuan dan pengakuan FIFA,” tandasnya.

“Di tengah-tengah tantangan yang dihadapi oleh organisasi dalam membangun persepakbolaan nasional PSSI tetap tegar bersama anggotanya, sehingga organisasi yang kita cintai ini tetap kokoh berdiri menegakkan aturan, karena siapa lagi yang harus mengawal organisasi ini kalau bukan kita semua termasuk mitra kerja kita,” tutup pria yang masa jabatannya akan berakhir pada tahun ini tersebut. (acf)
 
NH: LSI Mampu Cetak Bintang-Bintang Baru
Sabtu, 22 Januari 2011 - 06:34 wib
Achmad Firdaus - Okezone



JAKARTA - Selain berkomentar terkait kisruh LPI, Ketua Umum PSSI Nurdin Halid juga berkomentar terkait kualitas kompetisi Liga Super Indonesia (LSI). Menurutnya, LSI merupakan kompetisi yang kompetitif dan mampu menciptakan pemain yang unggulan untuk membela timnas Indonesia.

Komentar yang dilontarkan Nurdin kali ini merujuk pada penilaian pihak-pihak tertentu bahwa kompetisi LSI kita tidak bermutu dan diwarnai banyak kecurangan. Dia mementahkan penilaian tersebut dengan menunjukkan dua fakta yang menurunya menjadi faktor utama yang menggambarkan keberhasilan ISL.

“Pertama, faktor trust (kepercayaan): Setiap pekan, ratusan ribu penonton dan supporter tetap berbondong-bondong ke stadion dan jutaan pasang mata duduk di depan televisi karena mereka percaya pertandingan-pertandingan berjalan fair dan kompetitif termasuk para sponsor, mitra kerja,” selorohnya saat membuka Kongres II ke-II PSSI 2011, Hotel Hotel Pan Pacific Bali Nirwana Resort, Jumat (21/1) malam, seperti tertulis dalam laman resmi PSSI, Sabtu (22/1/2011).

“Kedua, faktor Kualitas Timnas dan Lahirnya Bintang Sepakbola: Sebuah fakta di depan kita bahwa pemain sepakbola kini menjadi perbincangan yang menarik sampai dengan tim nasional Piala AFF 2010 ini bukanlah datang tiba-tiba, tapi berproses dari klub dan kompetisi,” sambungnya.

“Sudah lama Bambang Pamungkas, Markus Harison, Firman Utina, dan Cristian Gonzales menjadi bintang sepakbola Indonesia di level klub dan kompetisi. Munculnya bintang-bintang baru seperti Okto Maniani, Nasuha, Bustomi, Yongki Aribowo membuktikan betapa kompetisi kita (LSI) bermutu, kompetitif, dan fair sehingga mampu melahirkan bintang-bintang baru,” lanjutnya. (acf)



 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar