The Jakmania Tidak Mengakui Nurdin
Rabu, 23 Februari 2011 | 14:37 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Gelombang unjuk rasa yang dilakukan suporter Indonesia menuntut revolusi PSSI semakin besar. Sekitar 500 pendukung Persija Jakarta, yang biasa disebut The Jakmania, Rabu (23/2/2011), mendatangi Kantor PSSI untuk bergabung dengan suporter lainnya.
Dari pantauan Kompas.com, pendukung "Macan Kemayoran" itu datang dengan mengenakan seragam dan panji-panji kebanggaan berwarna oranye. Mereka juga membawa bendera kuning sebagai simbol duka cita.
"Kami membawa ambulans, bendera kuning, dan keranda. Kami menilai PSSI telah mati dan kami menuntut Nurdin Halid turun hari ini," kata Sekretaris Umum The Jakmania Richard Akhmad di lokasi unjuk rasa.
Dalam pernyataan sikapnya, The Jakmania menegaskan lima hal. Mereka secara tegas tidak mengakui Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI dan menganggap jabatan tersebut demisioner. The Jakmania juga menilai keputusan Komisi Pemilihan Ketua Umum PSSI, yang menjegal calon-calon ketua umum PSSI 2011-2015 selain Nurdin dan Nirwan Bakrie, sebagai bentuk pengkhianatan moralitas dan hukum.
The Jakmania pun tegas menolak Nurdin Halid sebagai calon ketua umum PSSI periode 2011-2015 serta menuntut pemindahan lokasi kongres empat tahunan PSSI dari Bali ke Jakarta agar dapat diakses masyarakat luas. Mereka juga berharap pemerintah dapat mengambil langkah-langkah tegas terhadap PSSI.
Penulis: Ferril Dennys | Editor: Laksono Hari W |
Calon Ketua PSSI Tak Harus dari Pengurus
Rabu, 23 Februari 2011 | 15:36 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Ketua Dewan Pakar PSSI periode 2003-2007, Hariman Siregar, menilai PSSI telah mempersempit arti keterlibatan seseorang dalam sepak bola nasional. Hal ini, misalnya, dapat menghambat masuknya calon ketua umum PSSI yang bukan berasal dari pengurus PSSI.
Hariman beranggapan bahwa induk organisasi sepak bola Indonesia itu perlu diperbaiki dan berjalan sesuai dengan statuta yang ada. "Masih banyak kelemahan yang harus diperbaiki. Tapi saya melihat proses perbaikan saat ini sedang berjalan," katanya di sela diskusi tentang Kongres Empat Tahunan PSSI di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (23/2/2011).
Khusus mengenai pergantian pengurus PSSI, Hariman sepakat hal itu harus dilakukan. Namun, ia mengharapkan agar proses pergantian pengurus itu berjalan secara demokratis sesuai peraturan yang berlaku, baik sesuai statuta FIFA maupun statuta PSSI yang telah ditetapkan.
Saat ini, kata dia, memang ada beberapa pasal dalam statuta FIFA yang mengatur mekanisme pemilihan ketua dan wakil ketua umum PSSI, tetapi artinya disempitkan oleh PSSI. Contohnya adalah soal keterlibatan calon pengurus di sepak bola.
Pada Statuta FIFA, katanya, dijelaskan bahwa calon ketua umum harus telah aktif sekurang-kurangnya 5 tahun dalam kegiatan sepak bola. Hal itu bukan diartikan menjadi bagian dari kepengurusan PSSI selama 5 tahun sebagaimana diungkapkan Komite Pemilihan Ketua Umum PSSI dalam memverifikasi bakal calon.
"Makanya, kami datang ke sini untuk memberikan pencerahan agar tidak terus terjadi pertentangan dalam menyikapi statuta FIFA maupun PSSI," kata Hariman.
Tokoh Malari 1974 itu menjelaskan, meski mendukung perbaikan di tubuh PSSI, namun pihaknya tidak setuju jika dilakukan revolusi seperti yang didengung-dengungkan oleh pencinta sepak bola Indonesia saat ini. Perbaikan itu masih dapat dilakukan pada kongres empat tahunan di Bali, 26 Maret mendatang.
Dalam kongres tersebut, PSSI akan memilih kepengurusan PSSI periode 2011-2015. Saat ini ada dua calon ketua umum baru yang telah dinyatakan lolos oleh Komite Pemilihan PSSI. Mereka adalah Ketua Umum PSSI Nurdin Halid dan Wakil Ketua Umum PSSI Nirwan Bakrie.
Sumber : ANT
Penulis: Laksono Hari Wiwoho | Editor: Laksono Hari W |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar