Rabu, 30 Maret 2011

Mereguk Kesejukan di Sipiso-piso

Pengunjung menikmati pemandangan
di Air Terjun Sipiso-piso
di Kabupaten Karo,
Sumatera Utara,
beberapa waktu lalu.




Mereguk Kesejukan di Sipiso-piso
Editor: I Made Asdhiana
Rabu, 30 Maret 2011 | 16:08 WIB



Oleh: Mohammad Hilmi Faiq

Udara sejuk dan pemandangan hijau selalu menjadi idaman warga kota, apalagi jika ditambah suara ritmis air terjun dan kicau burung. Itulah yang tersaji pada obyek wisata Air Terjun Sipiso-piso di Kecamatan Merek, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Obyek wisata ini merupakan andalan Kabupaten Karo selain Bukit Gundaling dan wisata perkebunan.

Nama Sipiso-piso konon berasal dari kata piso atau pisau. Warga sekitar melihat bentuk air terjun yang menghujam itu mirip dengan sebilah pisau. Saat mandi di dasar air terjun dan merasakan guyuran air serasa seperti dihujani ribuan pisau. ”Begitu cerita yang beredar di masyarakat,” kata Pasriyanto Sembiring (37), warga setempat.

Versi lain, nama Sipiso-piso melekat pada air terjun itu karena lokasinya hanya selemparan batu dari Bukit Sipiso-piso.

Air terjun Sipiso-piso berada di ketinggian 800 meter di atas permukaan air laut. Air terjun ini jatuh dari tebing setinggi 120 meter menuju lembah yang dikelilingi perbukitan dan pohon pinus.

Airnya langsung mengalir ke Danau Toba, Desa Tongging yang hanya berjarak 2 kilometer. Itu sebabnya, selain menikmati air terjun, Anda bisa langsung melihat lanskap danau vulkanik terbesar di dunia itu.

Bila ingin sekadar menyaksikan keindahan Air Terjun Sipiso-piso, Anda bisa menikmati panoramanya dari bibir tebing. Tentu sensasinya kurang mantap dibandingkan langsung turun ke dasar tebing dan merasakan sejuknya air terjun. Untuk mencapai dasar tebing, Anda bisa menuruni bukit melalui jalan setapak berjarak 1 kilometer. Sekitar setengah perjalanan ada pos untuk beristirahat.

Butuh waktu satu jam untuk menuruni jalan itu dan satu setengah jam untuk kembali naik. Segala rasa capai dan lelah terbayar begitu sampai di dasar air terjun yang begitu menyegarkan. Coba duduk sejenak, dengarkan suara air yang membentur dasar tebing, serasa butiran bening itu menerpa wajah. Sejuk tak terkira!

Ajaklah satu atau dua orang teman saat turun, sekadar jaga-jaga apabila terjadi sesuatu. Hati-hati menuruni jalan ini karena semua besi pagar pembatas jalan hilang akibat ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Stamina menjadi perhatian penting saat turun ke dasar air terjun. ”Kalau tidak biasa jalan jauh, sebaiknya jangan turun deh. Bisa jadi enggak bisa balik karena naiknya butuh tenaga lebih besar,” ujar Dimas Sitepu (31), pengunjung, saat beristirahat di pos sambil mengelap keringat. Dia harus beristirahat sekitar setengah jam sebelum kembali menaiki jalan setapak.

Saat itu Dimas, yang warga Kota Medan itu, datang bersama delapan anggota keluarganya. Sebagian memilih menikmati air terjun dari bibir tebing karena merasa tak cukup tenaga untuk menuruni punggung bukit.

Itu sudah cukup bagi mereka untuk menghilangkan penat. Hijau dedaunan, suara angin dipadu suara air terjun, serta hijau punggung perbukitan mampu menenangkan batin.

”Kalau di rumah lagi suntuk dan pekerjaan bikin pusing, saya sering ke sini,” kata Titus Tarigan (50), warga Berastagi yang sudah enam kali datang ke Sipiso-piso.

Setelah menikmati kesejukan Sipiso-piso dan tak lupa foto-foto, pengunjung berangsur-angsur berkurang. Menjelang senja, pengunjung memang sudah menarik diri.

Ingin berlama-lama di Sipiso-piso? Anda bisa bermalam di Desa Tongging, persis di bibir Danau Toba. Dari Sipiso-piso, Anda harus menuruni jalan berliku sepanjang 4 kilometer. Tenang, di sepanjang jalan ini mata Anda dimanjakan oleh keelokan panorama perbukitan dan lembah yang ditumbuhi pinus. Dari jauh kelihatan barisan pohon pinus tumbuh di punggung bukit.

Sesampai di Desa Tongging, pilihlah tempat menginap sesuai kebutuhan dan uang di kantong. Harga sewa Rp 100.000-Rp 500.000 per malam.

Tongging juga menjadi pelengkap wisata alam karena di sini Anda bisa menikmati pantai Danau Toba atau sekalian menyewa kail untuk memancing. Bila kulit Anda sensitif, sebaiknya hati-hati karena di tepian danau ini terdapat ratusan kerambah ikan yang residu pakannya sudah mencemari air danau. Bisa jadi kulit Anda terserang gatal-gatal tatkala main di danau.


Sekiranya penginapan di Tongging kurang sesuai selera, meluncurlah ke Berastagi untuk mencari hotel berbintang. Jarak Tongging ke Berastagi hanya 25 kilometer.

Ada beberapa jalan akses untuk mencapai Sipiso-piso, antara lain dari Medan menggunakan kendaraan pribadi maupun angkutan umum dengan tarif Rp 30.000 sampai Rp 35.000. Butuh waktu tempuh sekitar dua setengah jam perjalanan lewat Berastagi-Kabanjahe-Merek.

Bisa juga mengambil jalan dari Medan-Lubuk Pakam-Kota Siantar dengan jarak tempuh sekitar lima jam. Sebagian besar pengunjung memilih jalur pertama karena lebih mudah dan singkat. Sebaiknya membawa kendaraan pribadi bila ingin lebih leluasa menikmati suasana.

Pengunjung perdana perlu memerhatikan kondisi jalan, terutama yang memilih jalur Berastagi. Kondisi jalan dari Pancur Batu hingga Sipiso-piso banyak berlubang, khususnya Jalan Tiga Panah. Di jalan ini tersebar puluhan lubang menganga sedalam 40-50 sentimeter dengan diameter sampai 4 meter. Bila hujan turun, jalan berubah menjadi kubangan air.

Jalan nasional ini sudah bertahun-tahun rusak, tetapi tidak ada perbaikan berarti dari pemerintah.

”Kami sudah berkali-kali menyampaikan ke pemerintah pusat dan Provinsi Sumut, tetapi ya tetap begitu. Banyak wisatawan yang kapok datang ke Karo lantaran jalan rusak itu,” kata Dinasti Sitepu, Kepala Dinas Pariwisata, Seni, dan Budaya Kabupaten Karo.

Kondisi infrastruktur Sipiso-piso tidak begitu bagus. Jalan tidak mulus dan sampah berserakan di mana-mana. Hal ini menunjukkan kesan tidak adanya perawatan berarti. Padahal, pendapatan asli daerah dari Sipiso-piso mencapai Rp 150 juta per tahun dari sekitar 150.000 pengunjung per tahun.

Dinasti memaparkan, sudah dua tahun ini tidak ada anggaran perawatan untuk Sipiso-piso. Alasannya, Dana Alokasi Umum Kabupaten Karo yang mencapai Rp 426 juta per tahun habis untuk gaji pegawai sebanyak 92 persen dan sisanya untuk pemeliharaan jalan kabupaten.

Di berbagai daerah, obyek wisata alam seperti Air Terjun Sipiso-piso ini ibarat angsa bertelur emas. Pemerintah senang menikmati telurnya, tetapi tidak pernah merawat angsanya. Mungkin aparat terkait lupa bahwa angsa bisa rutin bertelur jika gizinya memadai dan dirawat baik-baik. 






Bintang Porno Sora Aoi




Setelah Miyabi, Giliran Sora Aoi Main di Indonesia
Editor: Eko Hendrawan Sofyan
Rabu, 30 Maret 2011 | 15:26 WIB



JAKARTA, KOMPAS.com — Setelah mengajak bintang porno Rin Sakuragi bermain di film Suster Keramas, kini perusahaan film Maxima Pictures mengajak bintang film esek-esek Sora Aoi main film Suster Keramas 2. Lantas apa alasan Maxima mengajak bintang porno asal Jepang kembali bermain dalam filmnya?

"Saya tidak setuju kalau Sora masih disebut bintang porno. Sora itu juga sama seperti Maria Ozawa (Miyabi), dia mantan bintang porno. Sekarang Sora sudah tidak lagi main film porno. Sora pernah main film drama di Thailand. Anda boleh cek sendiri. Jadi, kita mengajak mantan bintang porno," papar produser Ody Mulya dari Maxima, seperti dikutip Tribunnews di Jakarta, Rabu (30/3/2011).

Sejauh ini, Ody Mulya masih merahasiakan isi dan jalan cerita dari film Suster Keramas 2 yang akan dibintangi Sora tersebut. "Kalau itu, kita lihat hasil filmnya saja deh. Kalau sudah nonton baru boleh menilai," tutur Ody Mulya.

Ody mengatakan, proses penggarapan filmnya sendiri saat ini mulai produksi. Sora Aoi sudah berada di Tanah Air selama sebulan untuk shooting film tersebut. "Sudah sebulan yang lalu. Kita shooting di daerah Jabotabek, di Puncak Bogor," jelas  Ody Mulya.

Sebelumnya, Ody juga telah melibatkan Miyabi dalam film Mengejar Miyabi, yang sempat membuat keriuhan dan aksi demo di mana-mana.

Alasannya tentu saja karena citra Miyabi sebagai bintang porno. Kehadirannya dinilai sejumlah komponen masyarakat dikhawatirkan akan merusak moral anak-anak bangsa.  





Lupakan Bintang Porno Sora Aoi, FPI Fokus ke Ahmadiyah
Penulis: Irfan Maullana | Editor: Eko Hendrawan Sofyan
Kamis, 31 Maret 2011 | 11:42 WIB



JAKARTA, KOMPAS.com -- Organisasi massa Front Pembela Islam (FPI) dikenal paling vokal menentang artis porno yang bermain dalam film Indonesia. Tapi kali ini, Ketua FPI DPD DKI Jakarta Habib Salim Umar Alatas memilih memfokuskan perhatiannya untuk membubarkan aliran Ahmadiyah ketimbang menentang keterlibatan bintang porno Jepang, Sora Aoi. 

Seperti disampaikan produser Maxima Pictures Ody Mulya Hidayat, pihaknya berencana melibatkan kembali bintang Jepang dalam film terbaru yang akan diproduksinya, Suster Keramas 2. Keterlibatan Aoi menyusul kemunculan bintang hot asal Jepang lainnya, seperti Maria Ozawa alias Miyabi.

Ditegaskan Salim, masalah Ahmadiyah jauh lebih penting ketimbang mengurusi bintang porno asal Jepang. Salim enggan gerakan FPI nantinya justru menjadi alat dagang Produser Maxima Pictures untuk menjual sensasi filmnya sebelum diputar di bioskop.

"Itu enggak usah ditanggapi, kami demo nanti dia semakin terkenal. Rugilah kami berteriak-teriak karena nanti dia semakin memanfaatkan keadaan," tandas Salim saat dihubungi Kompas.com, di Jakarta, Kamis (31/3/2011).

"Kami saat ini fokus saja dulu dengan pembubaran Ahmadiyah. Alhamdulillah sekarang sudah ribuan yang bertaubat," kata Salim.

Sedangkan untuk urusan film Aoi, pria yang akrab disapa Habib "Selon" itu memercayakan Lembaga Sensor Film (LSF) melakukan tugasnya dengan baik. "Biarin saja, LSF dong yang semestinya bertindak membabat film begituan," tegas Salim. 





Greenpeace Kejutkan Kantor Hatta Rajasa

LSM bertaraf internasional yang fokus pada isu lingkungan hidup mengejutkan para tenaga pengamanan di kantor Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta, Kamis (31/3/2011).
Aktivis Greenpeace, Kamis (31/3/2011) mengejutkan para tenaga pengamanan di kantor Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta. Mereka menuntut penghentian penebangan hutan sementara.


Greenpeace Kejutkan Kantor Hatta Rajasa
Penulis: Orin Basuki | Editor: Hertanto Soebijoto
Kamis, 31 Maret 2011 | 10:52 WIB



JAKARTA, KOMPAS.com - Sekitar 20 orang aktivis Greenpeace, Kamis (31/3/2011), menggelar aksinya di kantor Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa di Jalan Lapangan Banteng Timur, Jakarta Pusat. Kehadiran aktivis dari lembaga swadaya masyarakat atau LSM bertaraf internasional yang fokus pada isu lingkungan hidup itu mengejutkan para tenaga pengamanan di kantor Menko Perekonomian.

Para aktivis itu menggunakan kostum binatang buas dan pakaian pohon. Tanpa diketahui para petugas keamanan, tiba-tiba mereka sudah berdiri di depan tangga utama Kantor Menko Perekonomian.

Keberadaan mereka di depan tangga utama kantor Menko Perekonomian tidak lama, hanya sekitar 10 menit. Karena petugas satuan pengamanan langsung mendorong mereka untuk menggelar aksinya di luar pagar lingkungan kantor Menko Perekonomian.

Saat kejadian Hatta Rajasa sedang tidak berada di tempat karena tengah dipanggil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara. Namun, di Kantor Menko masih ada beberapa menteri, yakni Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Wirjawan, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas Armida Alisjahbana, dan Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo.

Adapun tuntutan melalui salah satu juru bicaranya, Yuyun Indradi menyatakan, binatang dan pohon yang disimbolkan oleh kostum-kostum tersebut mewakili hewan dan spesies tanaman yang nyaris punah di Indonesia. Kedatangan mereka ke Kantor Menko Perekonomian dimaksudkan untuk menuntut moratorium (penghentian sementara) perusakan hutan segera diimplementasikan.

"Kelestarian lingkungan dan pembangunan ekonomi berjalan beriringan. Memastikan pembangunan berkelanjutan akan mencegah degradasi ekologis lebih lanjut. Moratorium yang benar adalah kunci menuju pembangunan berkelanjutan yang akan meningkatkan kesejahteraan seluruh masyarakat. Menko Perekonomian perlu memahami peran pentingnya dalam mewujudkan moratorium yang baik," ujar Yuyun.

Moratorium penebangan hutan seharusnya diimplementasikan pada 1 Januari 2011. Namun, hingga saat ini, moratorium itu terus tertunda. Banyak yang menyebutkan bahwa penundaan itu terkait dengan adanya intervensi dari kepentingan industri.