Kamis, 28 April 2011

KONGRE PSSI 338

Ketua Komite Normalisasi PSSI, Agum Gumelar (kanan)
didampingi Sekretaris Jenderal PSSI, Nugraha Besoes
menggelar pertemuan pertama
di Kantor PSSI, Senayan, Jakarta, Rabu (6/4/2011).
Pertemuan yang dihadiri oleh tujuh anggota Komite Normalisasi PSSI
tersebut digelar untuk menyusun langkah-langkah menjelang
kongres pemilihan ketua umum PSSI pada 20 Mei mendatang. 




Nugraha Bantah Manipulasi Komite Banding
Ferril Dennys | I Made Asdhiana | Kamis, 28 April 2011 | 19:41 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Mantan Sekjen PSSI, Nugraha Besoes, membantah adanya manipulasi dalam keputusan Komite Banding. Besoes menegaskan, Surat Keputusan Banding terkait hasil Komite Pemilihan memang dikirimkan pada 28 Februari kepada FIFA.

"Sebagai lembaga, Komite Banding tidak bisa langsung surat-menyurat ke FIFA, harus melalui PSSI. Kami yang mengirimkan surat itu ke sana. Jadi, kenapa Tjipta Lesmana (Ketua Komite Banding) mengatakan tanggal 26 Februari karena keputusannya. Waktu itu, kami mengambilnya tanggal 28 Februari sore ke kantornya karena tanggal 27 Februari itu libur. Setelah itu, baru kami kirim pada hari yang sama tanggal 28 Februari itu," tegas Nugraha saat dihubungi wartawan, Kamis (28/4/2011).

Seperti diberitakan sebelumnya, keputusan Komite Banding PSSI yang diacu oleh FIFA berbeda tanggal dengan versi asli. Dalam surat 4 April dan 21 April, FIFA mengutip keputusan tanggal 28 Februari, sedangkan Surat Keputusan Komite Banding terkait hasil Komite Pemilihan dibuat pada 26 Februari.

Mantan Ketua Komite Banding PSSI Prof Tjipta Lesmana dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (27/4/2011), menjelaskan, saat konferensi pers di Hotel Santika pada 25 Februari memang belum ada surat keputusan (SK). Saat itu Komite Banding masih menggunakan notulensi rapat untuk keterangan pers.

"Saat konferensi pers belum ada SK, hanya notulensi rapat. Malamnya kami rapat sampai pagi membuat surat keputusan dan ditandatangani tiga anggota Komite Banding, yakni saya, Prof Gayus Lumbuun, dan Alfred Simandjuntak. Besoknya (26 Februari) langsung dikirim ke Sekjen (Sekretaris Jenderal) PSSI," jelas Tjipta.

Soal perbedaan tanggal yang diacu oleh FIFA, yaitu 28 Februari, Tjipta mengaku bahwa dirinya tidak tahu. Ia menilai, jika substansi keputusan yang diacu oleh FIFA tidak berbeda dengan keputusan Komite Banding, perbedaan tanggal itu tidak masalah. Ia menekankan esensi keputusan dibandingkan dengan perbedaan tanggal.


KONGRE PSSI 337



Kelompok 78 Bantah Paksakan Kehendak
Ferril Dennys | Hery Prasetyo | Kamis, 28 April 2011 | 19:01 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Kelompok 78 pemilik suara PSSI membantah tudingan telah memaksakan kehendak agar George Toisutta dan Arifin Panigoro diperbolehkan maju dalam pencalonan ketua umum PSSI 2011-2015 meskipun FIFA telah melarang.

"Kita tidak memaksakan kehendak," tegas perwakilan Kelompok 78 pemilik suara kepada wartawan di Hotel Sultan, Kamis (28/4/2011).

Kelompok 78 memang tetap bersikukuh mendukung Toisutta dan Arifin, meskipun dilarang FIFA. Mereka justru menilai keputusan FIFA itu tidak beralasan.

"Anehnya, keputusan FIFA tidak mengakui Komite Pemilihan, tetapi Komite Banding diakui. Kalau darurat, tapi jangan memaksakan yang ada," tukas Tuti.

Sementara itu, Usman Fakaubun menyatakan, Kelompok 78 tetap mengusung Toisutta dan Arifin karena kedua calon membawa perubahan. "Kami bersikukuh. Walau langit runtuh dan ada tsunami, kami tetap mengusung Toisutta dan Arifin. Ini harga mati," tegas Usman.

"Apa yang telah kita usung sejak awal, tidak perlu ditawar lagi, karena kami menginginkan suatu perubahan," lanjut Usman.

Usman mengaku yakin sikap mengabaikan keputusan FIFA tidak akan berakibat penjatuhan sanksi oleh FIFA. "Komunikasi secepatnya akan kita bangun dengan FIFA sehingga masalah ini segera rampung. Dijamin, sanksi tidak akan terjadi," tukas Usman.


KONGRE PSSI 336



Agum Dituduh Membawa Kepentingan
Ferril Dennys | Hery Prasetyo | Kamis, 28 April 2011 | 18:56 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com — Perwakilan Kelompok 78 pemilik suara PSSI, Wisnu Wardhana, menduga Ketua Komite Normalisasi, Agum Gumelar, membawa kepentingan terselubung saat bertemu Presiden FIFA, Sepp Blatter, pada 19 April lalu.

"Dia pergi ke Zurich tanpa mau didampingi seorang pun. Ketika Dubes Swiss (Joko Susilo) mau mendampingi, Agum menolak," jelas Wisnu kepada wartawan di Hotel Sultan, Kamis (28/4/2011).

Seperti diketahui, Agum bertemu Blatter untuk menanyakan ketiga calon, yakni Nirwan Bakrie, Goerge Toisutta, dan Arifin Panigoro, yang sebelumnya bisa digugurkan Komite Banding apakah bisa maju dalam kongres pemilihan ketua umum PSSI 2011-2015. Selain itu, Agum juga melaporkan hasil kongres 14 April yang membentuk Komite Pemilihan dan Komite Banding.

"Agum bertemu seseorang sebelum pertemuan itu. Selain itu, dia melaporkan kongres 14 April hanya sebagai meeting, bukan kongres. Kami sampai saat ini belum tahu hasil laporan Agum kepada FIFA," tukas Wisnu.

Pertemuan Agum dengan Blatter kemudian memutuskan FIFA tetap tegas terhadap keputusannya menolak tiga calon maju dalam kongres pemilihan. Selain itu, FIFA juga tidak mengakui Komite Pemilihan hasil kongres 14 April karena Komite Normalisasi sekaligus Komite Pemilihan. FIFA hanya mengakui pembentukan Komite Banding. Agum pun bersikukuh tetap mematuhi keputusan FIFA meskipun mendapatkan desakan dari Kelompok 78.

"Kalau Agum tidak mau berubah, lebih baik dia mundur. Kami menilai dia tidak kapabel lagi," tegas Wisnu.






Agum Siap Rombak Komposisi KN
Ferril Dennys | Hery Prasetyo | Jumat, 29 April 2011 | 08:23 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komite Normalisasi (KN), Agum Gumelar, mengaku tidak gentar mengganti anggota-anggota yang lebih membawa kepentingan kelompok daripada mematuhi keputusan FIFA.

Anggota Komite Normalisasi yang merangkap sebagai Komite Pemilihan terpecah pendapatnya, antara yang ingin memverifikasi dan tidak memverifikasi berkas pencalonan Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta. Lima anggota berpendapat ketiga calon yang sudah tak disetujui FIFA itu bisa diverifikasi. Mereka dinilai tidak melanggar satu pasal pun dalam statuta dan kode pemilihan.

Sementara tiga anggota lainnya berpegang pada surat FIFA tanggal 4 April dan 21 April yang menyatakan bahwa Nirwan, Nurdin Halid, Toisutta, dan Arifin tidak layak dicalonkan berdasarkan keputusan Komite Banding. Agum pun tetap kepada keputusannya untuk tidak memverifikasi ketiga calon tersebut sesuai keputusan FIFA.

"Proses verifikasi mereka tidak akan diteruskan. Kelompok 78 tidak bisa memaksakan kehendaknya. Kalau mereka ingin mengganti saya, maka harus mengusulkannya kepada FIFA. Silahkan saja," tegas Agum.

"Kalau kelima orang itu tidak lagi tunduk kepada instruksi FIFA, maka mereka harus keluar. Kami akan ganti mereka dengan figur lain yang jauh dari kepentingan kelompok. Masih ada figur yang berjiwa Merah Putih. Saya sudah punya gambaran nama dan akan diusulkan ke FIFA," sambungnya.

Akibat tidak satu suara ini, dua kali rapat pleno Komite Pemilihan, pada tanggal 27 April dan 28 April, berakhir deadlock. Belum ada keputusan pasti dari sidang untuk menghasilkan keputusan Komite Pemilihan yang akan mengumumkan hasil verifikasi hari ini.