Senin, 28 Februari 2011

kongres pssi 126 - Unjuk rasa antara lain berlangsung di Jakarta, Semarang, Solo, dan Aceh.

Demo Menentang Nurdin Pecah di Sejumlah Kota
Unjuk rasa antara lain berlangsung di Jakarta, Semarang, Solo, dan Aceh.
Selasa, 22 Februari 2011, 16:40 WIB
Edwan Ruriansyah


VIVAnews - Ratusan pemuda Aceh yang menamakan dirinya Masyarakat Aceh Pencinta Sepakbola berunjuk rasa di Simpang Lima, Banda Aceh. Mereka menentang pencalonan Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI periode 2011-2015.

"Kami menuntut Nurdin Halid mundur dari jabatan ketua umum dan pengurus PSSI karena telah mencoreng citra PSSI sebagai wadah olahraga yang paling populer di Indonesia ini," kata Oki Rahmatna Tiba, Koordinator Aksi Masyarakat Aceh Pecinta Sepakbola, Selasa, 22 Februari 2011.

Dalam pernyataan sikapnya, Masyarakat Aceh Pecinta Sepakbola juga mendesak PSSI untuk melaksanakan kongres secara fair, tanpa politik uang.

Pengunjuk rasa juga mengecam pernyataan Ketua PSSI Aceh yang juga Ketua KONI Aceh, Zainuddin Hamid, yang secara terbuka mendukung Nurdin sebagai Ketua Umum PSSI periode mendatang. "Kami mendesak PSSI Aceh mencabut peryataan yang mendukung Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI," kata Oki.

Demonstrasi serupa berlangsung di depan kantor PSSI, Senayan, Jakarta. Massa mengaku berasal dari kelompok suporter Persibo Bojonegoro, Boromania, ditambah kelompok yang mengaku sebagai pecinta sepak bola asal Semarang.

Aksi menentang Nurdin Halid juga digelar di Semarang. Di sini, yang berunjuk rasa adalah Forum Komunikasi Putra-putri Purnawirawan dan Putra-putri TNI Polri (FKPPI), Komunitas Pecinta Bola (KPB), dan Gerakan Pemuda Nusantara (GPN).

Di Solo, massa yang mengaku sebagai Komunitas Pecinta Sepak Bola Solo, juga menggelar aksi serupa. Mereka mengusung poster-poster yang mengecam Nurdin Halid dan pengurus pusat PSSI. (kd)





Hariman: Pemerintah Jangan Intervensi PSSI
"Statuta FIFA bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Pilihannya, kita ikut atau keluar."
Rabu, 23 Februari 2011, 14:42 WIB
Edwan Ruriansyah, Marco Tampubolo
VIVAnews - Aktivis Malari 1974, Hariman Siregar meminta pemerintah agar tidak mengintervensi PSSI yang akan menggelar Kongres di Bali, akhir Maret nanti. Pasalnya, hal itu akan membuat PSSI dikeluarkan dari keanggotaan Federasi Sepakbola Dunia (FIFA).

Pernyataan ini dilontarkan Hariman dalam sebuah jumpa pers di Cikini, Jakarta, Rabu 23 Februari 2011. Dalam acara ini, hadir juga juara dunia bulutangkis 1983, Icuk Sugiarto.

Hariman yang juga mantan Dewan Pakar PSSI periode 2003-2007 mengatakan, PSSI tidak bisa dilepaskan dari FIFA. Karena itu, PSSI mau tidak mau harus tunduk pada aturan yang telah dibuat oleh federasi sepakbola dunia tersebut.

"Statuta FIFA bukanlah hal yang perlu diperdebatkan. Pilihannya, kita ikut atau keluar dari FIFA," katanya.

Hariman juga menjelaskan bahwa sepakbola saat ini adalah sebuah bisnis besar. Karena itu, FIFA lewat statutanya berusaha untuk melindunginya dengan membuat statuta yang wajib diikuti oleh seluruh anggotanya.

"Sepakbola sekarang adalah bisnis besar. Jadi, tanpa statuta FIFA tidak yakin sepakbola ini bisa terproteksi dengan baik," katanya.

Mengenai kisruh yang terjadi di PSSI terkait verifikasi bakal calon yang maju pada Kongres PSSI, Hariman meminta pemerintah tidak ikut campur. Menurutnya, campur tangan pemerintah justru hanya akan membuat PSSI dikeluarkan dari FIFA.

"Bila PSSI sampai dikeluarkan dari FIFA, sepakbola Indonesia bakal ketinggalan. Saya tidak setuju kalau Indonesia sampai diban, karena itu akan membuat sepakbola kita ketinggalan lagi," beber Hariman.

Hariman lantas mencontohkan Federasi Sepakbola Yunani yang dibekukan FIFA. Kejadian ini menurut Hariman tak lepas dari intervensi pemerintah yang memaksakan aturan negaranya kepada sepakbola di sana.

"Karena itu, sebaiknya pemerintah jangan ikut campur. Namun, bagi saya pergantian kepengurusan PSSI yang demokratis itu perlu," ujar Hariman.
 
 
Petinggi PSSI Batal Tonton Timnas
Rencana itu batal akibat kondisi kantor PSSI pusat di Jakarta yang kurang kondusif.
Rabu, 23 Februari 2011, 14:35 WIB
Edwan Ruriansyah, Haryanto Tri Wibowo

VIVAnews - Timnas Indonesia Pra-Olimpiade dipastikan tidak ditonton langsung oleh petinggi PSSI. Sekjen PSSI, Nugraha Besoes membatalkan datang ke Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, Rabu 23 Februari 2011 malam.

Semula, Nugraha dijadwalkan untuk menonton langsung perjuangan Kurnia Meiga dan kawan-kawan melawan Turkmenistan pada leg 1 pra-kualifikasi Olimpiade 2012 di Jakabaring. Nugraha akan mewakili Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid yang tak mengagendakan hadir di Palembang.

Namun, rencana itu batal setelah kondisi kantor PSSI pusat di Jakarta yang kurang kondusif. Itu akibat gelombang demonstrasi kelompok suporter terhadap pencalonan kembali Nurdin Halid sebagai Ketua Umum PSSI.

"Rencananya, saya sendiri akan datang ke sana (Palembang). Tapi kalau kondisinya sekarang seperti ini, sampai saya tidak bisa masuk kantor, bagaimana bisa saya ke sana. Terpaksa hanya Pak Iman Arif (Deputi Bidang Teknis Badan Tim Nasional) yang di sana," ujar Nugraha saat dihubungi VIVAnews, Rabu 23 Februari 2010 siang.

Meski tidak bisa menonton langsung di Jakabaring, Nugraha mengaku akan tetap memantau perkembangan hasil pertandingan timnas Merah Putih junior melawan Turkmenistan.

Pria yang akrab disapa Kang Nug ini juga meminta agar timnas Indonesia tidak terpengaruh dengan kondisi jelang Kongres Luar Biasa saat menghadapi Turkmenistan. Nugraha berharap tim besutan Alfred Riedl itu bisa meraih kemenangan.

"Saya berharap mereka bisa menang. Mudah-mudahan mereka tidak terganggu dengan kondisi yang sekarang sedang terjadi. Saya harap mereka tetap bisa fokus ke pertandingan. Tapi, saya punya keyakinan mereka tidak akan terpengaruh," pungkas Nugraha.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar