Minggu, 27 Februari 2011

kongres pssi 106 - Pengamat Sepak Bola: PSSI Otoriter


Pengamat Sepak Bola: PSSI Otoriter
Minggu, 20 Februari 2011 | 18:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengamat sepak bola, Tondo Widodo, menilai PSSI otoriter dengan seenaknya menerapkan peraturan dalam proses verifikasi calon ketua umum PSSI periode 2011-2015. Pernyataan Tondo berkaitan dengan hasil verifikasi Komite Pemilihan yang menggugurkan Arifin Panigoro dan George Toisutta sebagai calon ketua umum PSSI periode 2011-2015.

Timbul Thomas Lubis, selaku kuasa hukum Arifin-Toisutta, mengungkapkan, Arifin tidak lolos karena terlibat dalam Liga Primer Indonesia (LPI), sedangkan Toisutta tidak memenuhi persyaratan aktif di sepak bola selama lima tahun.

"Hal itu tidak ada dalam statuta FIFA. PSSI jelas otoriter karena mengendalikan peraturan seenaknya. Mereka ingin status quo," kata Tondo saat dihubungi Kompas.com, Minggu (20/2/2011) sore. "Bagaimana putra terbaik seperti Toisutta dianggap tidak layak bila dibandingan dengan Nurdin Halid yang pernah dua kali dipenjara. Padahal, sesuai amanat Kongres Sepakbola Nasional (KSN), PSSI diminta melakukan reformasi. Namun, yang terjadi ada orang-orang yang melakukan reformasi malah diganjal," lanjutnya.

Pemerintah, kata Tondo, harus campur tangan apabila Arifin-Toisutta masih diganjal saat melakukan banding ke Komite Banding. "Banding adalah peluang terakhir kita. Kalau mereka masih dijegal, pemerintah harus secara langsung turun tangan," ucap Tondo.

Dengan adanya intervensi pemerintah, PSSI bisa mendapatkan sanksi berat dari FIFA. "Kalau di-banned memang konsekuensi. Namun, kalau demi perubahan, kenapa tidak. Kita itu melawan siluman (PSSI) yang tidak bisa dilawan dengan konstitusi," tutur Tondo.

Penulis: Ferril Dennys   |   Editor: Tri Wahono   |  





PSM: Harusnya Nurdin Yang Tak Lolos Verifikasi
Minggu, 20 Februari 2011 | 23:11 WIB


MAKASSAR, KOMPAS.com - PSM Makassar menilai Nurdin Halid seharusnya tidak lolos verifikasi sebagai calon Ketua Umum PSSI periode 2011-2015.

Kuasa Hukum PSM, Syahrir Cakkari, di Makassar, Minggu (20/2/2011), mengatakan, dalam aturan FIFA terdapat poin yang menjelaskan bahwa mantan terpidana tidak layak memimpin organisasi sepak bola seperti PSSI.

"Nurdin yang pernah dipidana atas kasus korupsi seharusnya menjadi alasan tim verifikasi untuk tidak meloloskannya. Kenyataan itu tentu sangat mengecewakan kami yang ingin melihat sebuah perubahan," jelasnya.

Pria yang berprofesi pengacara itu juga menyayangkan keputusan tim verifikasi yang dilakukan Komite Pemilihan yang menolak Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Goerge Toisutta dan pengusaha Arifin Panigoro sebagai kandidat ketua.

"Keterlibatan Toisutta dalam sepak bola yang menjadi alasan tim verifikasi juga tidak tepat karena mempunyai pengalaman membesarkan klub PSAD. Saya kira itu hanya merupakan akal-akalan saja," ujarnya.

Sebagai salah satu pendukung Toisutta, PSM juga dipastikan akan mendukung rencana tim sukses Toisutta dan Arifin Panigoro untuk mengajukan banding kepada Komite Pemilihan PSSI.

PSM juga berencana meminta campur tangan pemerintah untuk  menyelesaikan masalah tersebut, sebab keterlibatan pemerintah sangat penting karena ini sudah menjadi harapan masyarakat.

"Kita juga mempertanyakan integritas Komite Pemilihan PSSI atas keputusan yang tidak meloloskan Toisutta dan Arifin. Kita juga tidak yakin jika konsep itu sesuai dengan statuta FIFA," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum Komite Pemilihan, Syarif Bastaman, memastikan semua keputusan yang diambil sudah sesuai dengan aturan yang tertuang dalam statuta FIFA, termasuk menjalankan Standard Electoral Code FIFA hingga peraturan organisasi Nomor 2 terkait tata cara pemilihan ketua umum, wakil ketua umum dan anggota komite. (ANT)

Penulis: Hery Prasetyo   |   Editor: Hery Prasetyo   |   




KONI Jatim Tolak Haruna Sebagai Exco
Minggu, 20 Februari 2011 | 23:33 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com - KONI Jatim mendesak kejaksaan memeriksa kasus dugaan penggelapan dana pusat pelatihan daerah (Pelatda) yang dilakukan Haruna Soemitro, mantan Ketua Pengprov PSSI Jatim yang lolos sebagai anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI.

Penegasan itu disampaikan Wakil Ketua Umum KONI Jatim La Nyalla Machmud Mattalitti kepada wartawan di Surabaya, Minggu, menyikapi hasil verifikasi komite pemilihan mengenai calon ketua umum dan anggota Exco PSSI.

"Haruna sangat tidak layak lolos verifikasi. Kami akan mendatangi Kejaksaan Tinggi dan Polda Jatim untuk minta kasus penggelapan dana puslatda tim sepak bola PON ditindaklanjuti," kata La Nyalla.

Beberapa waktu lalu, KONI Jatim telah melaporkan Haruna Soemitro ke kejaksaan atas dugaan penggelapan dana puslatda sebesar Rp49 juta.
Langkah itu dilakukan KONI Jatim setelah Haruna Soemitro tidak segera menyelesaikan konflik kepengurusan di Pengcab PSSI Surabaya yang sudah berlangsung sekitar delapan bulan.

Laporan KONI Jatim itu membuat Haruna Soemitro akhirnya menyerah dan memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua Pengprov PSSI Jatim pada November 2010.

"Dana yang digelapkan memang tidak besar, tapi itu sudah bentuk tindakan kriminal karena yang digelapkan uang rakyat (APBD)," ujar La Nyalla.

Selain Haruna Soemitro, ia juga menyebut mantan Menejer Persik Kediri Iwan Budianto yang lolos verifikasi sebagai salah satu anggota Exco PSSI, sebagai figur yang sangat tidak layak.

"Saya memang tidak banyak tahu soal sepak bola, tapi PSSI yang sekarang dipimpin Nurdin Halid memang sudah sangat bobrok. Gerakan revolusi PSSI akan kita mulai dari Jatim," tambah La Nyalla.

Sementara itu, klub Perseba Bangkalan juga mempertanyakan lolosnya Haruna Soemitro dan Iwan Budianto sebagai calon anggota Exco, padahal keduanya dinilai bukan figur yang bersih.

Manajer Perseba Bangkalan Pingky Hidayati mengungkapkan Haruna Soemitro dan Iwan Budianto pernah menerima sejumlah uang untuk meloloskan timnya di kompetisi Liga Remaja tahun 2009.

"Kami memiliki bukti transfer uang tersebut dan totalnya sebesar Rp150 juta," kata Pingky sambil menunjukkan bukti transfer uang itu.

Menurut Pingky, pihaknya memang belum melaporkan kasus tersebut kepada polisi atau kejaksaan, karena masih berharap ada itikad baik dari kedua tokoh bola tersebut. (ANT)

Penulis: Hery Prasetyo   |   Editor: Hery Prasetyo   |   








Tidak ada komentar:

Posting Komentar