Minggu, 27 Februari 2011

kongres pssi - 83


Demo Anti-Nurdin Terus Meluas
Sabtu, 26 Februari 2011 | 04:45 WIB

Jakarta, Kompas - Unjuk rasa massa menuntut Ketua Umum PSSI Nurdin Halid mundur dari pencalonannya sebagai ketua umum PSSI meluas hingga ke berbagai kota, Jumat (25/2). Massa menilai, selama Nurdin memimpin PSSI, tidak ada prestasi yang ditorehkan, baik di tingkat regional maupun internasional sehingga Nurdin tidak layak mencalonkan diri lagi.

Hari Jumat, sejumlah demonstrasi anti-Nurdin terjadi di kota Samarinda (Kalimantan Timur), Pekanbaru (Riau), dan Kudus (Jawa Tengah). Aksi lanjutan juga terjadi di kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, baik oleh massa pro maupun anti- Nurdin, setelah dimulai beberapa hari sebelumnya. Kedua kelompok tidak sampai bertemu karena berbeda waktu sehingga aksi mereka berjalan aman.

Tidak layak

Massa pendemo, baik di Samarinda, Pekanbaru, maupun Kudus, menganggap Nurdin tak layak maju lagi dalam bursa pencalonan ketua umum. Nurdin dinilai gagal memimpin PSSI.

Aksi di Samarinda dilakukan kelompok yang tergabung dalam Forum Kerukunan Club Sepak Bola Samarinda (FKCSBS). Mereka menggelar aksi damai di halaman DPRD Kota Samarinda. Pengunjuk rasa pun diterima untuk berdialog dengan anggota DPRD Kota Samarinda.

Di kota Pekanbaru, giliran Aliansi Suporter Indonesia melakukan aksi demo terhadap PSSI. Sekitar 100 orang yang mengenakan baju suporter berbagai klub sepak bola Indonesia menyusuri jalan di kota dan mengakhiri aksi di depan kantor PSSI Riau di Jalan Sutomo.

Sementara di Kudus, aksi dilakukan sekitar 200 pendukung Persiku Kudus yang tergabung dalam Suporter Macan Muria (SMM). Aksi digelar di Alun-alun Simpang Tujuh, Kudus, Jumat petang.

”Prestasi sepak bola kita justru merosot. Kompetisi dalam negeri pun hanya dijadikan sebagai alat untuk mencari duit,” ujar Hasan M, koordinator aksi Samarinda.

Ketua Pengurus Provinsi PSSI Kaltim Achmad Amins mengatakan, siapa pun yang memimpin PSSI akan sulit untuk membawa tim nasional meraih prestasi di kancah internasional.

Di Pekanbaru, massa pendemo yang kecewa karena tidak menjumpai seorang pengurus PSSI Riau pun akhirnya menyemprotkan cat di depan pintu utama dan jendela depan dengan tulisan ”Disegel”.

Di Jakarta, para pendemo beraksi di depan kantor Kementerian Pemuda dan Olahraga. Para pendemo meminta Menteri Pemuda dan Olahraga Andi A Mallarangeng mengembalikan kunci yang dipakai untuk menggembok kantor PSSI. Mereka juga meminta Menpora tidak mengintervensi PSSI. Sebelum melanjutkan aksinya ke Gelora Bung Karno, para pendemo menggembok pintu gerbang kantor Menpora.

Sore harinya, giliran ratusan pendemo anti-Nurdin beraksi di Stadion Gelora Bung Karno. Mantan pemain nasional Andjas Asmara yang ikut berdemo mengatakan, PSSI harus dibekukan terlebih dahulu agar sepak bola Indonesia lebih baik.
(ILO/SAH/HEN/WAD/OKI)



Menpora Belum Terima Laporan Komisi Banding
Sabtu, 26 Februari 2011 | 10:03 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Andi Alifian Mallarangeng menyatakan belum mempelajari keputusan yang dikeluarkan Komisi Banding PSSI, terkait nama calon ketua umum periode 2011-2014. Dia baru mengetahuinya melalui layanan pesan singkat (SMS).

"Oleh karena itu, saya belum bisa mengeluarkan pernyataan apa pun," kata Andi, Sabtu (26/2/2011) di Bandung, Jawa Barat.

Komisi banding PSSI memutuskan menolak permohonan banding dari dua calon, yakni George Toisutta dan Arifin Panigoro. Namun, pada waktu yang sama dua nama calon yang sudah masuk juga dicoret, yakni Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar