Jumat, 25 Februari 2011

kongres pssi - 5

Pengurus PSSI Harus Orang Profesional, Bukan Politisi!
Sabtu, 22 Januari 2011 - 13:36 wib
Bramirus Mikail - Okezone
JAKARTA - Indonesia Corruption Watch (ICW) mengklaim sepakbola Indonesia seharusnya jangan dipolitisasi. ICW mencatat banyak individu-individu dari partai politik yang saat ini menjadi pengurus PSSI.

Apung Widadi selaku peneliti ICW mengklaim selama ini PSSI tidak transparan dalam penggunaan dana APBD. Menurutnya, banyak aliran dana APBD yang tidak jelas penggunaannya.

“Kita mempertanyakan arah industri sepakbola kita kalau masih bergantung pada APBD,” papar Apung.

ICW mencatat beberapa poin kritis yang kini tengah dihadapi sepakbola Indonesia. Pertama, manajemen bukan orang yang memang ahli di bidangnya. Kedua, pengelolaanya belum berorientasi pada iklim kompetisi dan bisnis mandiri. Ketiga, jabatan ganda (berpotensi konflik kepentingan) antara birokrasi dan sepakbola. Keempat, rawan dijadikan sarana tujuan politik saja (Pilkada).

“Perlu ada pemisahan. Seorang pengurus PSSI haruslah orang yang profesional, bukan anggota politisi, TNI, Polri, dan birokrasi,” imbuh Apung, saat diwawancarai
okezone, Sabtu, (22/01/2011).

“Kami berharap dana APBD benar-benar distop untuk klub, karena rawan politisasi dan korupsi,” tutupnya.

ICW juga mensinyalir ada empat modus yang dilakukan pihak-pihak tidak bertanggung jawab dalam menyelewengkan dana APBD untuk sepakbola. Seperti lewat Dana Bantuan Sosial, Dana Hibah, Penyertaan Modal, dan terakhir melalui KONI. (wei)
 
 
ASI: PSSI Bakal Undur Kongres Luar Biasa
Sabtu, 22 Januari 2011 - 15:11 wib
Bramirus Mikail - Okezone

JAKARTA - Richard selaku kordinator lapangan dari Aliansi Suporter Indonesia (ASI) mengklaim, Kongres PSSI yang berlangsung di Bali tidak akan menghasilkan perubahan.

Pentolan The Jak Mania ini beranggapan, Nurdin Halid berencana untuk mengundurkan rencana pemilihan ketua PSSI.

Menurut jadwal seharusnya pada April 2011 ini PSSI akan melakukan Kongres Luar Biasa. Namun hal itu tampaknya tidak akan terjadi, karena ASI menduga PSSI berencana mengundurnya hingga Desember 2011 mendatang.

“Dugaan kita, kongres di sana (Bali) tidak akan menghasilkan apa-apa. Satu hal yang penting adalah, PSSI akan mengundurkan jadwal Kongres Luar Biasa yang seharusnya jatuh April 2011, menjadi Desember 2011,” ujar Richard.

ASI memaparkan mengapa PSSI berusaha untuk mengundurkan jadwal kongres luar biasa. Menurut ASI, PSSI sedang berusaha mengincar proyek Pra Olympiade dan Sea Games yang sudah pasti melibatkan PSSI secara sistem keuangan negara.

Richard pun turut menyesalkan sikap PSSI yang menurutnya telah berbohong. Karena sebelum Kongres di Bali, PSSI berjanji akan membeberkan mengenai pengelolaan dana, tapi ternyata hal itu tidak terjadi.

“Ini adalah sebuah kebohongan. Kita akan melihat hasil Kongres PSSI di Bali, setelah itu kami akan lakukan gerakan yang lain,” tutup Richard. (wei)
 
 
Politisasi Sepakbola Sampai Tahap Overdosis
Sabtu, 22 Januari 2011 - 16:23 wib
Bramirus Mikail - Okezone
JAKARTA - Pengamat politik Burhanuddin Muhtadi turut angkat bicara melihat perkembangan sepakbola di Tanah Air, khususnya yang kini mengusik PSSI.

Sebagai pecinta bola, Burhanuddin ingin sepakbola Indonesia jauh lebih baik secara pengelolaan, transparansi, dan prestasi.

Dalam pandangannya, dia melihat Kongres PSSI di Bali saat ini merupakan bagian dari partisipasi publik. Pengamat Lembaga Survei Indonesia ini juga menaruh harapan agar hasil Kongres PSSI menghasilkan suatu keputusan yang berguna.

“Ada beberapa catatan saya terkait Kongres PSSI di Bali yang merupakan bagian dari partisipasi publik. Saya berharap Kongres PSSI mendapatkan input yang baik dan tidak berlanjut untuk menjadikan sepakbola sebagai alat transaksi politik,” ujar Burhanuddin.
Burhanuddin juga menambahkan, sepakbola di Indonesia sudah berada di tahap yang mengkhawatirkan, karena kerap dipolitisasi.

“Politisasi sepakbola di Indonesia sudah sampai tahap overdosis dan memuakan. Bahkan bukan lagi sebagai obat, tetapi seringkali menjadi racun yang membuat sepakbola kita selalu dalam kondisi sekarat. Karena, terlalu overdosisnya politisi memakai, mengkapitalisasi sepakbola untuk kepentingan politik mereka, tutupnya. (wei)
 
Pemain Persema Malang merayakan gol Irfan Bachdim (tengah). Foto: Koran SI 
 
Persibo & Persema Tuntut PSSI
Senin, 24 Januari 2011 - 16:25 wib
Kukuh Setiawan - Koran SI

 
BOJONEGORO – PSSI memutuskan untuk mencoret Persema Malang dan Persibo Bojonegoro dari anggota. Dua klub asal Jawa Timur ini menuntut induk sepakbola tanah air itu melalui jalur hukum.

Itu buntut dari keputusan PSSI yang mengeluarkan Persibo dan Persema karena menyeberang ke Liga Primer Indonesia (LPI). Menurut kedua klub, mengikuti LPI tidak berarti keluar dari PSSI dan mereka merasa tidak layak dihapus begitu saja dari organisasi.

Persibo mengalami nasib serupa dengan Persema dalam kongres PSSI di Bali. Keduanya tidak diundang ke hajatan tersebut, bahkan juga tidak diizinkan memasuki ruang kongres. Perlakuan itu dianggap keputusan sepihak yang merugikan kedua klub.

“Kita datang ke kongres untuk membela diri di depan semua peserta. Tapi nyatanya kita dilarang. Ini kan namanya keputusan sepihak,” tukas Juru Bicara Persibo Tony Ade Irawan. Pembelaan yang dimaksud adalah alasan tim berjuluk Laskar Angling Dharma mengikuti LPI.

Dijelaskan Tony, alasan bergabungnya Persibo ke LPI karena krisis finansial hingga menyebabkan gaji pemain tak terbayar. Karena anggaran dari APBD Kabupaten Bojonegoro tidak bisa dicairkan sewaktu-waktu, manajemen pun kesulitan menjalankan aktifitas klub.

Jadi, lanjut Tony, keikutsertaan ke LPI murni karena tidak adanya dana untuk operasional klub. Sementara LPI sendiri bersedia menyuplai anggaran selama semusim, baik untuk operasional maupun pembelian pemain. “Jadi kita tidak memusuhi PSSI,” tegasnya.

Selanjutnya, atas kesepakatan manajemen klub, pihak Persibo bakal melayangkan tuntutan ke pengadilan atas keputusan tersebut. Rencananya tuntutan akan dilayangkan bersama dengan Persema yang mengalami nasib serupa.

Hampir bersamaan, Ketua Umum Persema Malang Peni Suparto juga berhasrat menempuh jalur hukum. Menurutnya, keikutsertaan di LPI tidak serta merta keluar dari PSSI. “Kita hanya keluar dari ISL. Bukan keluar dari PSSI,” tegas Walikota Malang ini.

Sebagai lembaga profesional, Peni menilai PSSI tidak berhak mencoret keanggotaan Persema. Dia juga menyesalkan keputusan sepihak yang tidak mengundang Persema ke kongres di Bali, bahkan tidak memperbolehkan tim milik Pemkot Malang ini memasuki area kongres.

Kapan tuntutan dilayangkan? Baik Persibo maupun Persema masih mengumpulkan data dan bukti yang diperlukan untuk melengkapi tuntutan tersebut. Namun kedua klub sepakat melayangkan tuntutan secepat mungkin agar persoalan tidak berlarut-larut.

Sekadar diketahui, Persema dan Persibo memutuskan ikut LPI yang digagas Arifin Panigoro. Jika Persibo beralasan kesulitan finansial, Persema meninggalkan ISL karena ingin bertarung di kompetisi yang dianggap lebih profesional dan modern
(hmr)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar