Senin, 07 Februari 2011

Kronologi Penyerangan Ahmadiyah Versi Polisi


Kronologi Penyerangan Ahmadiyah Versi Polisi
Oleh: Laela Zahra
Nasional - Senin, 7 Februari 2011 | 15:36 WIB


INILAH.COM, Jakarta - Aksi penyerangan berdarah terhadap jemaah Ahmadiyah, dinyatakan sebagai tindakan kekerasan yang telah diprovokasi sebelumnya.

Polri menerangkan kronologi kejadian ini, bermula dari kegiatan rutin jemaah Ahmadiyah yang dilakukan di kediaman salah satu jemaahnya Suparman. Jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang, Banten ini, rutin menyelenggarakan kegitan agama di kediaman Suparman. Kegiatan yang dilakukan pada Minggu (6/2/2011) kemarin, sebelumnya pihak Kepolisian telah mengimbau untuk tidak dilaksanakan.

"Ini kegiatan akan ada aksi sekelompok masyarakat di rumah Pak Suparman, itu sudah ada hari Jumat. Itu sudah ada upaya-upaya persuasif, imbauan dari kepolisian agar tidak lakukan kegiatan. Kita bersama tokoh masyarakat, agama, anggota Polres, berupaya. Upaya itu pencegahan sudah sejak Jumat," jelas Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar, di Markas Besar Polri, Jakarta, Senin (7/2/2011).

Imbauan polisi ini menurut Boy, tidak diindahkan Ahmadiyah dan acara tetap dilaksanakan di kediaman Suparman pada Minggu (6/2/2011), pukul 10.00 WIB.

Karena imbauan tidak diindahkan, maka Polri pun melakukan antisipasi terjadinya bentrokan massa. Kepolisian Sektor Cikeusik telah mengkoordinir anggotanya untuk mengamankan kegiatan jemaah Ahmadiyah.

"Minggu pagi sudah koordinir kekuatan di Polsek Cikeusik, hanya kita menduga ada yang memprovokasi mendatangkan massa dalam jumlah besar," beber Boy.

Namun pihak yang melakukan provokasi itu tidak diungkapkan Boy, meski telah teridentivikasi. "Ini kan tidak mungkin datang dengan tiba-tiba dengan sendirinya, karena massa ini rentan provokasi," tambah Boy.

Meski telah melakukan antisipasi dan mempersiapkan kekuatan di tingkat kepolisian sektor, bentrokan massa ini tidak dapat dibendung. Kerusuhan terjadi saat jemaah Ahmadiyah melakukan kegiatannya, Minggu pagi.

"Ini adalah masyarakat yang datang bersama-sama baik yang bertamu ke rumah Pak Suparman maupun masyarakat yang merasa keberatan dengan adanya mereka disana. Ini kita mau cari tahu ada masalah apa," imbuh Boy.

Polri beralasan, kekuatan anggota polisi di tingkat kepolisian sektor tidak memadai untuk melerai bentrokan massa di Cikeusik. "Menurunkan aparat dalam jumlah besar memerlukan waktu, anda silakan lihat sendiri dari pusat kota beberapa jauh, berapa lama. Kalau kita saksikan dari sini kan tidak mudah," kata Boy.

Penyerangan terhadap jemaah Ahmadiyah pun tak bisa dihindari, satu mobil dibakar kelompok penentang, 3 orang dinyatakan tewas, dan 6 orang lainnya luka berat.

"Kita sedang lakukan penyelidikan terhadap keberadaan mereka (pelaku) disana," tutup Boy.

Saat terjadinya bentrokan berdarah ini, lanjut Boy, Kapolsek Cikeusik dan pihak Polres Pandenglang telah lakukan langkah-lngkah antisipasi, dan berada di lokasi saat bentrokan terjadi.

"Tentu tidak mungkin kepolisian melakukan pembiaran, kalau kepolisian tidak tahu sama sekali, baru itu namanya pembiaran. Tapi kalau itu sudah diikuti, hanya nanti yang harus kita teliti apakah kekuatan yang diterjunkan seimbang atau tidak dengan massa yang datang secara tiba-tiba, dari mana itu yang masih kita selidiki," tutup Boy.[win]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar